Anak Yatim

 


Nabi Muhammad Saw menjadi yatim piatu sejak kecil. Itulah sebabnya, dia sangat mencintai anak yatim. Itu pula sebabnya, dia menjanjikan kedekatan sejarak “dua jari tangan” kepada orang yang gemar menyantuni anak yatim.

Sebagian kita pun mungkin ditinggalkan orangtua ketika masih kecil. Dan kita pun suka mengasihi anak yatim.

Tapi sadarkah kita, bahwa anak-anak kita yang masih kecil pun mungkin menjadi yatim?

Pentingnya Asuransi

“Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati.” (Hadis)

Ketika Nabi Muhammad Saw mewasiatkan lima hal di atas, beliau tentu tidak berpikir soal asuransi. Para ulama pun lebih memaknai hadis tersebut sebagai peringatan agar kita banyak beramal sebelum segalanya terlambat, baik kesempatan maupun kemampuan.

Namun jika kita merenungkan kembali pesan Nabi tersebut di masa sekarang, dengan mudah kita menemukan betapa erat kaitannya hadis ini dengan produk keuangan modern yang disebut asuransi. Tanpa mengurangi penafsiran yang telah disajikan para ulama, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, dan lapang sebelum sempit dapat dimaknai sebagai anjuran mengikuti asuransi kesehatan, kaya sebelum miskin berarti saran untuk mengambil proteksi atas penghasilan, dan hidup sebelum mati merupakan dasar dari asuransi jiwa.
Baca lebih lanjut

Asuransi Dibeli Saat Tidak Butuh

Asuransi itu produk yang unik. Umumnya kita membeli produk karena kita membutuhkan produk tersebut. Tapi asuransi dibeli ketika kita tidak butuh. Jika kita membeli produk asuransi saat butuh, perusahaan asuransi malah tidak akan mau menjualnya kepada kita.

Ya. Itu karena asuransi adalah produk yang dibeli untuk kebutuhan berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, di mana terjadinya risiko tersebut dapat terganggu kondisi keuangan kita. Dengan ikut asuransi, gangguan finansial dapat ditanggulangi.

Risiko yang mungkin terjadi dan dapat mengganggu kondisi keuangan antara lain sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia. Khusus meninggal dunia, risiko keuangan diderita pihak yang ditinggalkan, utamanya jika yang meninggal dunia adalah sang pencari nafkah. Baca lebih lanjut